Kamis, 14 Juli 2011

Asfiksia Neonatus

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi yang baru dilahirkan tidak segera bernafas secara spontan dan teratur setelah dilahirkan. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam rahim yang berhubungan dengan faktor–faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, dan setelah kelahiran (Manuaba, 2002).



Pembangunan sumber daya manusia tidak terlepas dari upaya kesehatan khususnya upaya untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Ibu pada prinsipnya memiliki peran ganda yaitu sebagai pengasuh anak yang secara makro akan ikut menentukan generasi bangsa yang akan datang maupun secara mikro akan ikut menentukan ekonomi keluarga. Karena itu, pembangunan sumber daya manusia harus di mulai sejak dini yakni pada saat janin masih dalam kandungan ibu dari masa awal pertumbuhannya.

Sementara World Health Organization, dalam laporannya menjelaskan bahwa asfiksia neonatus merupakan urutan pertama penyebab kematian neonatus di Negara berkembang pada tahun 2007 yaitu sebesar 21,1%, setelah itu pneumonia dan tetanus neonatorum masing-masing sebesar 19,0% dan 14,1%. Dilaporkan kematian neonatal adalah asfiksia neonatus (33%), prematuritas (10%), BBLR (19%).
Menurut laporan kelompok kerja World Health Organization, dari 8 juta kematian bayi di dunia, 48% adalah kematian neonatal. Dari seluruh kematian neonatal, sekitar 60% merupakan kematian bayi umur  7 hari, yang disebabkan oleh gangguan perinatal yang salah satunya adalah asfiksia (Saifuddin, 2003).
Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia menduduki peringkat tertinggi ketiga diantara Negara-negara ASEAN. Walaupun demikian, angka kematian bayi di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan dengan Negara ASEAN lainnya, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Tahun 2005 per 1000 kelahiran hidup sebesar 4 di Singapura, sebesesar 12 di Malaysia, sebesar 38 di Filipina. Di Indonesia, menurut SKRT tahun 2005, sekitar 54 per kelahiran hidup (Depkes RI, 2007).Walaupun pada tahun 2003 angka tersebut mengalami penurunan yaitu menjadi 32 per 1000 kelahiran hidup, akan tetapi angka ini masih jauh dari target pencapaian tahun 2010 yaitu 15 per 1000 kelahiran hidup (Saifuddin, 2003). 
Di Indonesia, angka kematian neonatal sebesar 25 per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian neonatal dini (0-7 hari) sebesar 15 per 1000 kelahiran hidup. Dari hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia pada tahun 2007 penyebab utama kematian neonatal dini adalah BBLR (35%), asfiksia (33,6%), tetanus (31,4%). Angka tersebut cukup memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap morbiditas dan mortalitas bayi baru lahir (Wijaya, 2009).
Di Negara berkembang, sekitar 3% dari semua bayi baru lahir mengalami asfiksia sedang atau berat (Depkes RI, 2007). Sekitar 15 - 45% diantaranya meninggal dan sejumlah kurang lebih yang sama menderita gejala sisa yang berat berupa epilepsi dan retardasi mental (Manuaba, 2002).
Sebagian kasus asfiksia pada bayi baru lahir merupakan kelanjutan dari asfiksia intrauterin. Maka dari itu, diagnosa dini pada penderita asfiksia mempunyai arti penting dalam merencanakan resusitasi yang akan dilakukan. Setelah bayi lahir, diagnosis asfiksia dapat dilakukan dengan menetapkan nilai APGAR. Penilaian menggunakan skor APGAR masih digunakan karena dengan cara ini derajat asfiksia dapat ditentukan sehingga penatalaksanaan pada bayi pun dapat disesuaikan dengan keadaaan bayi (Mochtar, 2002).
Dari sumber lain juga ditemukan bahwa prematuritas merupakan salah satu faktor risiko terjadinya Asfiksia pada bayu baru lahir. Jadi, terdapat hubungan yang erat antara persalinan preterm dengan kejadian asfiksia. Usia bayi pada persalinan preterm menyebabkan fungsi organ-organ bayi belum terbentuk secara sempurnan termasuk juga organ pernapasan. Sehingga dapat menyebabkan bayi mengalami gangguan nafas segera setelah lahir. Salah satu karakteristik bayi preterm ialah pernafasan tak teratur dan dapat terjadi gagal nafas (Manuaba, 2002).
Di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2009 persalinan sebanyak 1972 orang dimana pada tahun tersebut terdapat 163 bayi yang lahir diantaranya mengalami asfiksia neonatorum, dan 78 bayi lahir kurang bulan dan 85 (52,6 %) diantaranya mengalami asfiksia neonatorum. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti apakah ada hubungannya antara umur kehamilan ibu pada saat bayi lahir dengan kejadian asfiksia di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2009.
a bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2009.
b. Untuk mengidentifikasi umur kehamilan ibu saat bayi dilahirkan di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2009.
c. Untuk mengetahui hubungan umur kehamilan ibu saat bayi dilahirkan dengan kejadian asfiksia di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2009.
D. Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan infomasi bagi instansi terkait dalam hal ini dinas kesehatan kota Kendari untuk dilakukan tindakan preventif dan meningkatkan pelayanan kesehatan bagi wanita.
2. Sebagai bahan informasi bayi masyarakat pada umumnya dan para wanita khususnya mengenai persalinan preterm dan asfiksia pada bayi baru lahir.
3. Sebagai salah satu bahan referensi selanjutnya khususnya penelitian mengenai asfiksia.
E. Keaslian Penelitian
Telah ada penelitian terdahulu yang mengkaji hal-hal yang menyangkut kejadian asfiksia, namun dalam penelitian ini memfokuskan hubungan umur kehamilan pada saat bayi dilahirkan dengan kejadian asfiksia. Adapun penelitian yang telah dilakukan :
1. Penelitian Nurchotimah (2008), tentang Hubungan Anemia Pada Ibu Hamil Yang Menjalani Persalinan Spontan Dengan Angka Kejadian Asfiksia Neonatorum di RSUD Sragen Tahun 2006-2007. Perbedaannya adalah jenis penelitian Nurchotimah yaitu Penelitian Analitik, Lokasi penelitian di RSUD Sragen Tahun 2006-2007 dan subyek penelitian yaitu semua ibu hamil yang mengalami anemia. Menggunakan Uji Statistik Chi2.
2. Penelitian Margarets (2008), tentang Hubungan antara Faktor Ibu Dengan Angka Kejadian Asfiksia Neonatorum di RSUD Banjarnegara Kabupaten Banjarnegara Tahun 2005. Perbedaannya adalah jenis penelitian Helmy Margarets yaitu Penelitian Explanatory Survey dengan Pendekatan Cross Sectional, menggunakan Uji Statistik Chi2.
Perbedaan dengan penelitian ini adalah pada design penelitian, tempat dan lokasi penelitian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Tinjauan Tentang Asfiksia
a. Definisi
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur (Rukiyah dan Yulianti). Dari sumber lain menyebutkan asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir tidak bernafas secara spontan dan teratur, sering kali bayi yang sebelumnya mengalami gawat janin akan mengalami asfiksia sesudah persalinan . Ada pula dari sumber lain disebutkan bahwa asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Manuaba, 2002).
b. Penyebab asfiksia
Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan sirkulasi darah utero plasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi berkurang. Hipoksia bayi di dalam rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir.
Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya adalah faktor ibu, tali pusat dan bayi berikut ini:
1) Faktor ibu:
a) Preeklamsia dan eklamsi
b) Perdarahan abnormal 
c) Partus lama atau partus macet
d) Demam selama persalinan
e) Infeksi berat
f) Kehamilan lewat waktu (sesudah 42 minggu) 
2) Faktor tali pusat:
a) Lilitan tali pusat
b) Tali pusat pendek
c) Simpul tali pusat
d) Prolapsus tali pusat
3) Faktor bayi:
a) Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
b) Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
c) Kelainan bawaan (kongenital)
d) Air ketuban bercampur mekonium
c. Gejala dan tanda-tanda asfiksia
1) Tidak bernafas atau bernafas megap-megap
2) Warna kulit kebiruan
3) Kejang
4) Penurunan kesadaran
Dari sumber lain disebutkan faktor-faktor yang juga dapat menyebabkan asfiksia. Faktor-faktor yang timbul dalam persalinan bersifat lebih mendadak dan hampir selalu mengakibatkan anoksia atau hipoksia janin dan berakhir dengan asfiksia bayi. Keadaan ini perlu dikenal, agar dapat dilakukan persiapan yang sempurna pada saat bayi lahir. Faktor-faktor yang mendadak terdiri atas:
1) Faktor-faktor dari pihak janin, seperti: (1) gangguan aliran darah dalam tali pusat karena tekanan tali pusat, (2) depresi pernapasan karena obat-obat anastesi/analgetik yang diberikan pada ibu, perdarahan intrakranial, dan kelainan bawaan, hipoplasia paru-paru dan lain-lain.
2) Faktor-faktor dari pihak ibu, seperti: (1) gangguan his, misalnya hipertoni dan tetani, (2) hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan misalnya pada plasenta previa, (3) hipertensi pada eklamsia, (4) gangguan mendadak pada plasenta seperti solusio plasenta (Prawirohardjo, 2007).
d. Patofisiologi
Dari pandangan patologi, kematian akibat asfiksia dapat dibagi dalam dua golongan : 
1) Primer (akibat langsung dari asfiksia) 
Kekurangan oksigen ditemukan di seluruh tubuh, tidak tergantung pada tipe dari asfiksia. Sel-sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan O2. Bagian-bagian otak tertentu membutuhkan lebih banyak O2, dengan demikian bagian tersebut lebih rentan terhadap kekurangan oksigen. Perubahan yang karakteristik terlihat pada sel-sel serebrum, serebelum dan ganglia basalis. Di sini sel-sel otak yang mati akan digantikan oleh jaringan glial, sehingga pada organ tubuh yang lain yakni jantung, paru-paru, hati, ginjal dan yang lainnya perubahan akibat kekurangan O2 langsung atau primer tidak jelas.
2) Sekunder (berhubungan dengan penyebab dan usaha kompensasi dari tubuh) 
Jantung berusaha mengkompensasi keadaan tekanan oksigen yang rendah dengan mempertinggi outputnya, akibatnya tekanan arteri dan vena meninggi. Karena oksigen dalam darah berkurang terus dan tidak cukup untuk kerja jantung maka terjadi gagal jantung dan kematian berlangsung dengan cepat. Keadaan ini didapati pada : 
a) Penutupan mulut dan hidung (pembekapan). 
b) Obstruksi jalan nafas seperti pada mati gantung, penjeratan, pencekikan dan korpus alienum dalam saluran nafas atau pada tenggelam karena cairan menghalangi udara masuk ke paru-paru. 
c) Gangguan gerakan pernafasan karena terhimpit atau berdesakan (traumatic asphyxia). 
d) Penghentian primer dari pernafasan akibat kegagalan pada pusat pernafasan, misalnya pada luka listrik dan beberapa 
e. Sikap bidan menghadapi asfiksia neonatus
Bidan sebagai tenaga medis diharapkan peka terhadap pertolongan persalinan sehingga dapat mencapai well born baby dan well health mother. Oleh karena itu, bekal utama sebagai bidan adalah:
1) Melakukan pengawasan hamil, sehingga kehamilan dengan risiko tinggi segera melakukan rujukan medis.
2) Melakukan pertolongan hamil risiko rendah dengan memanfaatkan partograf. 
3) Melakukan perawatan ibu dan janin baru lahir 
Untuk dapat mencapai tingkatan yang diharapkan perlu dilakukan usaha menghilangkan faktor risiko pada kehamilan sehingga memperkecil terjadinya asfiksia neonatorum. Dalam menghadapi persalinan normal diharapkan bidan sudah mengatahui langkah pertolongan neonatus sebagai berikut:
1) Tindakan pertolongan umum neonatus:
a) Kepala bayi diletak pada posisi yang lebih rendah
b) Bersihkan jalan nafas dari lendir, mulut dan tenggorokan, saluran nafas bagian atas.
c) Mengurangi kehilangan panas badan bayi dengan membungkus dan memandikan dengan air hangat.
d) Memberikan rangsangan menangis, memukul telapak kai atau menekan tendon pada tumit bayi.
e) Dalam ruang gawat darurat bayi selalu tersedia: penghisap lendir bayi dan O2 dengan maskernya.
2) Tindakan khusus asfiksia neonatus
Menghadapi asfiksia neonatus memang di perlukan tindakan spesialis, sehingga diharapkan bidan dapat segera melakukan rujukan medis ke rumah sakit. Melakukan pertolongan persalinan dengan risiko rendah di daerah pedesaan sebagian besar berlangsung dengan aman dan baik. Penilaian bayi baru lahir dilakukan dengan mempergunakan sistem apgar score (Manuaba, 2002).
f. Langkah-langkah resusitasi
1) Langkah awal:
a) Jaga bayi tetap hangat
b) Atur posisi bayi
c) Isap lendir
d) Keringkan dan rangsang taktil
e) Reposisi
f) Penilaian apakah bayi menangis atau bernafas spontan dan teratur, bila tidak lakukan tindakan ventilasi.
2) Ventilasi:
a) Pasang sungkup, perhatikan pelekatan
b) Ventilasi 2 kali dengan tekanan 30 cm air, amati gerakan dada bayi
c) Bila dada bayi mengembang, lakukan ventilasi 20 kali dengan tekanan 20 cm air dalam 30 detik.
d) Penilaian apakah bayi menangis atau bernafas spontan dan teratur. Bila tidak lanjutkan ventilasi tiap 30 detik. Perhatikan lagi apakah bayi bernafas spontan dan teratur. Bila tidak siapkan rujukan, bila bayi tidak bisa dirujuk dan tidak bisa bernafas spontan setelah 20 menit, pertimbangkan untuk menghentikan tindakan resusitasi.
2. Tinjauan tentang umur kehamilan ibu saat bayi dilahirkan
a. Cukup bulan (aterm)
Umur kehamilan atau umur gestasi dimulai sejak terjadinya konsepsi hingga lahirnya janin, yang dimaksud dengan umur kehamilan aterm yaitu apabila umur kehamilan antara 38 minggu sampai 42 minggu atau bayi dengan berat badan 2.500 gram atau lebih (Prawirohardjo, 2007). Kehamilan dengan cukup bulan dapat meminimalkan persalinan dengan risiko yang dapat terjadi. Hal tersebut karena sudah terjadi kematangan bentuk fisik janin dan hal merupakan yang mempunyai dampak potensial meningkatkan kematian bayi dapat dikurangi.
b. Kurang bulan (Preterm)
Umur kehamilan kurang dari 37 minggu termasuk dalam kategori risiko tinggi karena bayi akan lahir dalam keadaan BBLR sehingga sering menimbulkan gangguan pernafasan. Bayi yang lahir dari ibu dengan umur kehamilan yang kurang bulan adalah bayi yang lahir dengaan umur kehamilan antara 28 minggu sampai 36 minggu (Prawirohardjo, 2007).
Kesulitan utama dalam persalinan kurang bulan adalah perawatan bayi preterm yang semakin muda usia kehamilan semakin besar morbiditas dan mortalitas, karena disamping harapan hidup perlu dipikirkan pula kualitas bayi tersebut. (Saifuddin, 2003). Persalinan kurang bulan menimbulkan resiko neonatal seperti gangguan pernapasan dan suhu tubuh yang tidak stabil. (Varney, 2004:42). Hal tersebut merupakan hal yang berbahaya karena mempunyai dampak potensial meningkatkan kematian bayi.
Melihat dampak negatif persalinan kurang bulan tidak saja terhadap kematian perinatal tetapi juga terhadap morbiditas, potensi generasi akan datang, kelainan mental dan beban ekonomi bagi keluarga dan bangsa. Maka Indonesia harus bertekad untuk menurunkan angka kejadian persalinan kurang bulan, yang bila berhasil akan mempengaruhi angka kematian bayi.
c. Lewat bulan (Posterm/serotinus)
Kehamilan lewat waktu berlangsung 40 minggu atau 280 hari dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu lengkap disebut sebagai post term atau kehamilan lewat waktu. Angka kejadian kehamilan lewat waktu kira-kira 10%; bervariasi antara 3,5-14%. Perbedaan yang lebar disebabkan perbedaan dalam menentukan usia kehamilan. Fungsi placenta mencapai puncaknya pada kehamilan 38 minggu dan kemudian mulai menurun terutama setelah 42 minggu, hal ini dapat dibuktikan dengan penurunan kadar estriol dan placental lactogen. Rendahnya fungsi placenta berkaitan dengan peningkatan kejadian gawat janin dengan resiko 3 kali (Winkjosastro, 2005). 
B. Landasan teori
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur (Prawirohardjo, 2007). Dari sumber lain menyebutkan asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir tidak bernafas secara spontan dan teratur, sering kali bayi yang sebelumnya mengalami gawat janin akan mengalami asfiksia sesudah persalinan (Prawirohardjo, 2006). Adapula dari sumber lain disebutkan bahwa asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Manuaba, 2002).
Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan sirkulasi darah utero plasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi berkurang. Hipoksia bayi di dalam rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir.
Asfiksia pada bayi baru lahir dapat disebabkan oleh umur kehamilan ibu pada saat bayi dilahirkan seperti kurang bulan. Usia bayi pada persalinan preterm menyebabkan fungsi organ-organ bayi belum terbentuk secara sempurnan termasuk juga organ pernapasan. Sehingga dapat menyebabkan bayi mengalami gangguan nafas segera setelah lahir. Salah satu karakteristik bayi preterm ialah pernafasan tak teratur dan dapat terjadi gagal nafas (Manuaba, 2002).
Kehamilan lewat waktu berlangsung 40 minggu atau 280 hari dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu lengkap disebut sebagai post term atau kehamilan lewat waktu. Fungsi placenta mencapai puncaknya pada kehamilan 38 minggu dan kemudian mulai menurun terutama setelah 42 minggu, hal ini dapat dibuktikan dengan penurunan kadar estriol dan placental lactogen. Rendahnya fungsi placenta berkaitan dengan peningkatan kejadian gawat janin dengan resiko 3 kali (Winkjosastro, 2005).


C. Kerangka Teori























(Prawirohardjo, 2007, Winkjosastro, 2005, Manuaba, 2002)


D. Kerangka Konsep



Keterangan :
Variabel bebas : umur kehamilan
Variabel terikat : kejadian asfiksia


E. Hipotesis
1. Hipotesis Null (Ho): Tidak ada hubungan antara umur kehamilan ibu dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir.
2. Hipotesis alternative (Ha): Ada hubungan antara umur kehamilan ibu dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan Case Control (retrospektif study yang dimaksudkan untuk mengkaji hubungan antara efek dapat berupa penyakit atau kondisi kesehatan) dengan faktor resiko tertentu.
Rancangan penelitian 













B. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 16-22 Agustus 2010.
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Ruang Perinatologi Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi yaitu bayi yang lahir di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2009 sebanyak 1972 bayi.
2. Sampel
Sampel yaitu bayi lahir yang mengalami asfiksia dan yang tidak mengalami asfiksia yang tercatat dalam buku register (medical record) di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2009 sejumlah 230 bayi.
a. Kasus
Bayi asfiksia yang tercatat dalam buku register di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara sebanyak 115 bayi.
b. Kontrol
Bayi yang bukan asfiksia yang tercatat dalam buku register di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara sebanyak 115 bayi. Adapun teknik pengambilan sampel yaitu simple random sampling.
Besaran sampel antara kasus dan kontrol dengan perbandingan. 1:1. kasus 115 dan kontrol 115 dengan menggunakan rumus jumlah populasi dibagi jumlah sampel diinginkan (1857 : 115 = 16) sehingga didapatkan angka kelipatan 16 untuk memperoleh sampel kontrol sampai mencapai 115 (Notoatmodjo, 2005).
D. Definisi Operasional dan Kriteria Obyektif
1. Asfiksia adalah suatu keadaan dimana bayi yang lahir baik bernafas spontan maupun tidak dapat bernafas spontan dan teratur memiliki Apgar score > 8. Kriteria objektif:
a. Asfiksia : Apgar score < 8 b. Tidak asfiksia : Apgar score 8 – 10 (Manuaba, 2002) 2. Umur kehamilan adalah lamanya ibu hamil dihitung sejak hari pertama haid terakhir sampai terjadinya persalinan.saat bayi dilahirkan Kriteria objektif: a. Beresiko : Preterm (≤ 37 minggu) dan serotinus (>42 minggu)
b. Tidak beresiko : Aterm (38 - 42 minggu)
(Wiknjosastro, 2005)
E. Pengumpulan Data
Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data yang diperoleh dari medical record Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara yang meliputi data kejadian asfiksia dan tidak asfiksia.
F. Pengolahan dan Penyajian Data
1. Pengolahan data
Data yang diperoleh diolah secara manual dengan menggunakan kalkulator 
2. Penyajian data
Data disajikan dalam bentuk tabel yang dipersentasekan dan diuraikan dalam bentuk narasi.
G. Analisis Data
1. Analisis Univariabel
Untuk menguji hipotesis digunakan analisis univariat dengan formulasi tabel sebagai berikut :
X2 = N(ad-bc)
(a+b)(c+d)(a+c)(b+d)
Keterangan: 
N : Jumlah sampel
A,b,c,d : Sel-sel
2. Analisis Bivariabel
Umur Kehamilan Bayi Yang Lahir Jumlah
Asfiksia Bukan Asfiksia 
Preterm & Serotinus
Aterm A
C B
D A+B
C+D
Jumlah A+C B+D A+B+C+D


Keterangan
A : Jumlah kasus dengan resiko (+)
B : Jumlah Kontrol dengan resiko (+)
C : Jumlah kasus dengan resiko (-)
D : Jumlah kontrol dengan resiko (-)
Estimasi koefisien interval (CI) ditetapkan pada tingkat kepercayaan 95% dengan interprestasi :
Jika OR > 1, merupakan faktor resiko terjadinya kasus.
Jika OR = 1, tidak ada hubungan faktor resiko kasus.
Jika OR < 1, merupakan faktor resiko proteksi/perlindungan terjadinya kasus. Selanjutnya, hasil tersebut akan diolah untuk menentukan adanya hubungan antara kedua variabel independent dengan variabel dependent yang dihubungkan dengan menggunakan uji Chi-square test BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Lokasi Penelitian Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara, terletak di ibu Kota Provinsi yaitu Kota Kendari tepatnya di jalan Dr. Ratulangi No. 151 Kelurahan Kemaraya Kecamatan Mandonga. Lokasi ini sangat strategis karena mudah dijangkau dengan kendaraan umum dengan batas sebagai berikut Sebelah Utara : Jalan Dr. Ratulangi Sebelah Timur : Perumahan Penduduk Sebelah Selatan : Jalan Bunga Kamboja Sebelah Barat : Jalan Saranani Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara berdiri di atas tanah seluas 69.000 m2. Luas seluruh bangunan adalah 22.577,38 m2. Halaman parkir seluas ± 1.500 m2. Semua bangunan mempunyai tingkat aktivitas yang sangat tinggi. Disamping kegiatan pelayanan kesehatan kepada pasien, kegiatan yang tidak kalah pentingnya adalah kegiatan administrasi, pengelolaan makanan, pemeliharaan/perbaikan instalasi listrik dan air, kebersihan dan lain-lain. Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara yang dibangun secara bertahap pada tahun anggaran 1969 / 1970 dengan sebutan “ Perluasan Rumah Sakit Kendari” adalah milik pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dengan klasifikasi type C berdasarkan SK Menkes N0.51/Menkes/II/1979 tanggal 22 Februari 1979. Susunan struktur organisasi adalah berdasarkan SK Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara No. 77 tahun 1983 tanggal 28 Maret 1983. Pada tanggal 21 Desember 1998, RSU Provinsi Sulawesi Tenggara meningkat menjadi Type B (Non Pendidikan) sesuai dengan SK Menkes No.1482/Menkes/SK/XII/1998, dan ditetapkan dengan perda No.3 tahun 1999 tanggal 8 Mei 1999. Kedudukan Rumah Sakit secara teknis berada dibawah Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara dan secara taktis operasional berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur. Sejak tanggal 18 januari 2005, RSU Provinsi Sulawesi Tenggara telah terakreditasi untuk 5 pelayanan yaitu Administrasi Manajemen, Pelayanan Medik, Pelayanan Gawat Darurat, Pelayanan Keperawatan dan Rekam Medis sesuai dengan SK Dirjen Yanmed No.HK.00.06.3. 5.139. Sarana dan Prasarana di Ruang Perinatologi: 1. Kamar dan tempat tidur a. Ruang Perawatan : 25 Tempat tidur b. Ruang Kepala Ruangan : 1 kamar c. Kamar jaga : 1 kamar 2. Ketenagaan a. Dokter spesialis anak : 3 orang b. Bidan : 4 orang c. Perawat : 16 orang Sarana dan Prasarana di Ruang Kebidanan 1. Kamar dan tempat tidur a. Kelas III berjumlah : 25 Tempat tidur b. Kelas II berjumlah : 9 Tempat tidur c. Kalas I berjumlah : 8 Tempat tidur d. VIP : 3 Tempat tidur e. VK : 1 kamar (6 tempat tidur) f. Pasca bedah : 1 kamar ( 4 tempat tidur) g. Bangsal : 1 kamar (6 tempat tidur) h. Ruang isolasi : 1 kamar (1 tempat tidur) 2. Ketenagaan a. Dokter spesialis obsgyn : 3 orang b. Bidan : D-III (34 orang) dan D-I (16 orang) B. Hasil Penelitian 1. Analisis Univariabel Tabel 1. Distribusi frekuensi kelahiran bayi di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2009 Kelahiran Frekuensi % Asfiksia 115 5.8 Tidak asfiksia 1587 94.2 Total 1972 100 Data Sekunder, 2009 Dari tabel 1 di atas, terlihat bahwa angka kejadian asfiksia pada bayi baru lahir selama tahun 2009 berjumlah 115 atau 5.8% dari keseluruhan persalinan yang terjadi. Tabel 2. Distribusi berdasarkan umur Kehamilan di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2009 Umur Kehamilan Frekuensi % Berisiko (preterm & serotinus) 43 18.7 Tidak berisiko (Aterm) 187 81.3 Total 230 100 Data Sekunder, 2009 Tabel 2 menunjukkan bahwa kelahiran bayi yang asfiksia maupun tidak asfiksia yang terjadi paling banyak pada umur kehamilan tidak beresiko yakni sebanyak 187 orang (81.3%). Hanya 18.7% ibu-ibu yang melahirkan dengan umur kehamilan berisiko. 2. Analisis Bivariabel Analisis bivariabel untuk mengetahui hubungan variabel bebas yakni umur kehamilan dengan variabel terikat yaitu kelahiran asfiksia menggunakan uji chi kuadrat dan odds ratio (OR). Tabel 3. Hubungan umur kehamilan dengan kelahiran asfiksia di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2009 Umur kehamilan Asfiksia Tidak Asfiksia Total Chi2 hitung OR N (%) N (%) N (%) Berisiko (preterm&serotinus) 36 (31.3) 7 (6.1) 43 (18.7) 24.1 7 Tidak berisiko (aterm) 79 (68.7) 108 (93.9) 187(81.3) Total 115 (100) 115 (100) 230 (100) Sumber : data sekunder, 2009 Berdasarkan tabel 3 diatas, terlihat bahwa kejadian asfiksia pada kelompok kasus (asfiksia) lebih banyak terjadi pada umur kehamilan tidak berisiko yakni sebanyak 79 (68.7 %). Sedangkan pada kelompok kontrol (yang tidak asfiksia yang melahirkan dengan umur kehamilan baik preterm maupun aterm sebanyak 7 orang (6.1%). Berdasarkan hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi2 diperoleh chi2 hitung > chi2 tabel (24.1 > 3.841) maka hipotesil null ditolak dan peneliti menerima hipotasis alternatif. Hasil analisis tersebut menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara umur kehamilan dendan kelahiran bayi asfiksia. Hasil perhitungan nilai OR diperoleh OR sebesar 7 artinya bahwa ibu-ibu yang umur kehamilannya berisiko berpeluang mengalami risiko melahirkan bayi asfiksia sebesar 7 kali.
C. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus asfiksia pada tahun 2009 di Rumah Sakit Umum Provinsi Sulawesi Tenggara sebanyak 115 kasus dari keseluruhan jumlah kelahiran. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada hubungan antara umur kehamilan dengan kelahiran bayi yang mengalami asfikisa. Ibu-ibu yang umur kehamilannya beresiko baik preterm maupun serotinus berpeluang melahirkan bayi asfiksia sebesar 7 kali. Hasil penelitian ini sejalan dengan yang ditemukan oleh Margarets (2008), bahwa ada hubungan antara umur kehamilan dengan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir.
Menurut Prawirohardjo (2007) bahwa faktor yang bisa menyebabkan kejadian asfiksia adalah faktor kehamilan ibu yaitu kehamilan yang lewat waktu (serotinus/postterm) yaitu usia kehamilan yang melewati 42 minggu dan kelahiran prematur yakni bayi yang dilahirkan dengan usia kehamilan kurang dari 38 minggu. Hal ini disebabkan karena pada bayi yang lahir preterm (kurang bulan) organ-organ tubuhnya belum mature hal ini menyebabkan sistem pernapasan khususnya paru-paru bayi belum bekerja secara optimal akibatnya bayi bisa mengalami asfiksia. 
Sedangkan pada bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan umur kehamilan melebihi 42 minggu kejadian asfiksia bisa disebabkan karena fungsi plasenta yang tidak maksimal lagi akibat proses penuaan mengakibatkan transportasi oksigen dari ibu ke janin terganggu. Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 38 minggu dan kemudian mulai menurun terutama setelah 42 minggu, hal ini dapat dibuktikan dengan penurunan kadar estriol dan plasental laktogen. Rendahnya fungsi plasenta berkaitan dengan peningkatan kejadian gawat janin dengan risiko 3 kali (Wiknjosastro, 1998).

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan hubungan umur kehamilan ibu pada saat bayi di lahirkan dengan kejadian asfiksia di RSU Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2009, maka dapat disimpulkan : penelitian mengenai :
1. Kejadian asfiksia pada tahun 2009 di RSU RSU Provinsi sebanyak 115 atau 5.8%. 
2. Kejadian kelahiran bayi pada umur kehamilan beresiko (preterm dan serotinus) sebanyak 43 orang (18.7%).
3. Ada hubungan yang bermakna antara umur kehamilan dengan kelahiran bayi asfiksia ( chi2 hitung > chi2 tabel (24.1 > 3.841)). Ibu-ibu yang umur kehamilannya beresiko (preterm dan serotinus) berpeluang mengalami resiko melahirkan bayi asfiksia sebesar 7 kali.
B. Saran
1. Pada pengelola program kesehatan khususnya program ibu dan anak perlu strategi lain dalam merencanakan program penyuluhan kesehatan pada umumnya, khususnya mengenai komplikasi yang dapat terjadi pada kehamilan preterm dan serotinus agar ibu-ibu hamil dapat mewaspadai hal tersebut. 
2. Agar ibu-ibu hamil sering memeriksakan kehamilan ke tenaga kesehatan secara teratur untuk mendeteksi adanya kelainan yang membahayakan ibu dan janinnya. 
3. Agar persalinan dilakukan di tempat pelayanan kesehatan dan di tolong oleh tenaga kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, 2002. Proses Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka cipta. 
Cunningham FG, 2006. Obstetri william. Ed 21 (Edisi Bahasa Indonesia). Jakarta : EGC.
Dinkes Provinsi Sulawesi Tenggara, 2008. Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara : Kendari.
Dinkes RI, 2007. Profil Kesehatan Reproduksi Indonesia 2003. Jakarta : World Health Organization. 
Margarets, 2008. Kejadian Asfiksia Neonatorum. Internet : www.tanyadokter anda.com. Diakses tanggal 21 Juni 2010. 
Manuaba IBG. 2002. Ilmu Kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana untuk pendidikan bidan. Jakarta : EGC.
Mochtar R. 2002. Sinopsis obstetri. ed 3. Jakarta : EGC.
Notoatomodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta : Jakarta.
Nurchotimah, 2008. Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir . http: www.kalbe.co.id. Tanggal di akses 15 Februari 2008.
Prawirohardjo, S. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta. YBP-SP.
Saifuddin AB, 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Prawirohardjo.
Utomo MT. Asfiksia Neonatorum. http://www.pediatrik.com. (diakses tanggal 12 Januari 2008).
Wijaya, 2009. Kondisi Angka Kematian Neonatal-Angka Kematian Bayi. http://www.infodokter.com/index.php?optio=com-content8.id=92.
Wiknjosastro H, 2005. Ilmu Kebidanan. Ed 3 Cetakan Keenam. Jakarta: Tridasa Printer.
Wiknjosastro H, 1998. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Varney H, 2004. Ilmu Kebidanan Varney. Edi ke 3. Bandung : Eleman. 

1 komentar:

reny reyurrie mengatakan...

terimaksih banyak kak, izin saya jadikan referensi penelitian saya ya kak..

Poskan Komentar

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template